031-3977660 info@waterpedia.co.id

1. Dampak Limbah Rumah Tangga bagi Kesehatan

Pembuangan limbah rumah tangga secara sembarangan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat di sekitarnya. Beberapa penyakit yang dapat disebabkan oleh limbah ini, yaitu penyakit diare, penyakit tifus, penyakit kolera, penyakit jamur, serta penyakit cacingan.

 

2. Dampak Limbah Rumah Tangga bagi Lingkungan

Penanganan limbah rumah tangga secara sembarangan akan mengakibatkan kerusakan dan pencemaran pada lingkungan. Kerusakan dan pencemaran lingkungan ini akan berdampak buruk bagi masyarakat, seperti mengakibatkan banjir dan menimbulkan bau yang tidak sedap.

 

3. Dampak Limbah Rumah Tangga bagi Keadaan Sosial dan Ekonomi Penanganan limbah rumah tangga secara sembarangan akan menyebabkan dampak buruk bagi keadaan sosial dan ekonomi masyarakat. Limbah Rumah Tangga dapat menimbulkan banyak penyakit yang dapat berakibat pada tingginya biaya kesehatan. Keadaan lingkungan yang kotor dan tercemar akibat limbah akhirnya juga akan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat.

 

Air limbah rumah tangga dihasilkan dari berbagai kegiatan atau kebutuhan sehari-hari pelaku rumah tangga, seperti air bekas mandi, air bekas mencuci baju, air bekas mencuci peralatan makan, serta sisa makanan berwujud cair.

 

Air limbah rumah tangga perlu dikelola untuk menghindari terjadinya pencemaran lingkungan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengelola air limbah rumah tangga adalah dengan membuat saluran air kotor atau bak peresapan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan saluran air kotor atau bak peresapan ini, yaitu:

 

Tidak boleh menyebabkan sumber air bersih yang terdapat di lingkungan tersebut tercemar

Tidak boleh sampai mengotori permukaan tanah.

Mencegah tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.

Mencegah berkembangbiaknya lalat dan serangga lain.

Tidak boleh menimbulkan bau tidak sedap yang akan mengganggu masyarakat sekitar.

Membuat konstruksi secara sederhana dengan menggunakan bahan yang murah dan mudah untuk didapatkan.

Sumber air dan bak resapan memiliki jarak minimal 10 m.

“Greywater” dan “Blackwater”

Selain sisa detergen, rumah tangga juga mengasilkan limbah dari dapur dan limbah bekas mandi. Ketiga limbah ini dikenal dengan nama greywater atau limbah nonkakus. Rumah tangga juga menghasilkan limbah kotoran manusia, yang dikenal dengan blackwater. Beberapa ahli sanitasi menambahkan satu kategori lagi untuk limbah tetesan AC dan kulkas sebagai clearwater. Dalam kehidupan sehari-hari, clearwater umumnya tidak berjumlah banyak, terutama dari kulkas, sehingga sulit diolah untuk dimanfaatkan kembali. Tetesan AC jumlahnya sedikit lebih banyak dan bila ditampung dalam wadah dapat langsung digunakan untuk keperluan bersih-bersih, misalnya cuci piring atau pakaian.

 

Umumnya, orang membuang limbah greywater langsung ke selokan yang ada di depan rumah, tanpa diolah terlebih dahulu. Akibatnya, sungai—yang menjadi tempat bermuaranya selokan—tercemar; warnanya menjadi coklat dan mengeluarkan bau busuk. Selain bisa menyebabkan ikan-ikan mati, zat-zat polutan yang terkandung di dalam limbah juga bisa menjadi sumber penyakit, seperti kolera, disentri, dan berbagai penyakit lain. Coba tengok pengalaman di kota London tahun 1848 dan 1853. Kala itu terjadi wabah kolera yang menewaskan 10.000 penduduk di sekitar Sungai Themes. Usut punya usut, ternyata wabah itu disebabkan Sungai Themes tercemar limbah rumah tangga.

 

Mesti diolah

Berbeda dengan blackwater, greywater tidak dapat dibuang ke septic tank karena kandungan detergen dapat membunuh bakteri pengurai yang dibutuhkan septic tank. Karena itu, diperlukan pengolahan khusus yang dapat menetralisasi kandungan detergen dan juga menangkap lemak.

 

Cara yang paling sederhana mengatasi pencemaran greywater adalah dengan menanami selokan dengan tanaman air yang bisa menyerap zat pencemar. Tanaman yang bisa digunakan, antara lain jaringao, Pontederia cordata (bunga ungu), lidi air, futoy ruas, Thypa angustifolia (bunga coklat), melati air, dan lili air. Cara ini sangat mudah, tapi hanya bisa menyerap sedikit zat pencemar dan tak bisa menyaring lemak dan sampah hasil dapur yang ikut terbuang ke selokan.

 

Cara yang lebih efektif adalah membuat instalasi pengolahan yang sering disebut dengan sistem pengolahan air limbah (SPAL).

 

Alat & bahan :

1. Sampel

2. gless Beker

3. Kertas lakmus

4. TDS

5. Kawan petil

6. Spektrometer

7. Timbangan gram

8. Kertas saring

9. Corong kaca

10. Penjepit cawan

11. Desikator

 

LANGKAH KERJA :

1 . langkah pertama cek ph pada

sampel yang diuji

2. lakukan berulang setiap sampel

3. cek setiap sampel menggunakan

sepektrometer

4. isi kuvet menggunakan sampel sampai tanda batas

5. lalu masukkan kurvet ke dalam

sepektrometer lalu tekan tombol on/off

6.lakukan berulang kesetiaan

sampel yang di uji

7. Cek temperatur Suhu sampel menggunakan alat TDS

8. lakukan berulang kali setiap sampel

9. cek sampel menggunakan alat tds untuk mengukur Logam dlm air

10. Lalikan berulang kali setiap sampel yang di uji

11. lakukan penyaringan / tss pada setiap sampel

12. Setelah selesai penyaringan letakkan kertas saring atas cawan petil

13. lalu oven kertas penyaring

14. Setelah dioven letakkan cawan petil yang berisi kertas saring kedalam desikator tunggu hingga kertas saring

sudah tidak panas

15.lalu timbang masing-masing

kertas saring.