Selamat Hari Air Sedunia 22 Maret 2021
Traning 10 LAngkah Mendesain IPAL STP WWTP Bekasi 08-09-10 April 2021
headerweb-international tranining wwtp waterpedia

JENIS DESINFEKTAN DALAM PENGOLAHAN AIR

JENIS DESINFEKTAN YANG ADA DALAM PENGOLAHAN AIR

 

Desinfektan merupakan bahan untuk melakukan desinfeksi. Desinfeksi adalah compositions pengolahan air dengan tujuan membunuh kuman atau bakteri microorganism yang ada dalam air. Sebelum air bersih didistribusikan compositions desinfeksi mutlak dilakukan sebaik apapun hasil pengolahan yang diperoleh.

Kecepatan dan kemampuan desinfeksi tergantung dari beberapa faktor yakni :

1. Keadaan mikroorganisme, dilihat dari : jenis, jumlah, umur, penyebaran.

2. Desinfektan, dilihat dari : jenis dan konsentrasi desinfektan.

3. Waktu kontak

4. Faktor lingkungan meliputi : suhu, ph, kualitas air, pengolahan air.

Berikut ini merupakan jenis desinfektan air yang umumnya digunakan:

1. Chlorin (Cl2)

jenis desinfektan air Chlorin banyak digunakan dalam pengolahan air bersih dan air limbah sebagai oksidator dan desinfektan. Sebagai oksidant, chlorin digunakan untuk menghilangkan bau, rasa dan warna pada pengelolahan air bersih, serta untuk mengoksidasi Fe+2 dan Mn-2 yang banyak terkandung dalam air tanah menjadi Fe+3 dan Mn-3 . Yang dimaksud dengan chlorin tidak hanya Cl2 saja, akan tetapi termaksuk juga asam hiphochlorite (HOCl) dan particle hypochlorite (OCl). Serta beberapa jenis chloramine, seperti monochloramine (NH2Cl) termaksud di dalamnya. Chlorin dapat diperoleh dari gas Cl2 atau dari garam-garam NaOCl (fade) dan Ca(OCl)2. Chloramines terbentuk karena adanya reaksi antara amonia (NH3), baik anorganik amonia maupun organik amonia di dalam air dengan chlorine. Adapun jenis-jenis chlorin adalah sebagai berikut :

a. Anorganik Chloramine

Seperti telah disebutkan di atas, chloramine terbentuk karena adanya amonia di dalam air. Chloramine kurang efektif sebagai desinfektan bila dibandingkan dengan chlorine, tetapi bersifat lebih stabil sehingga residualnya lebih tireless. Pementukan jenis chloramines tergantung pada pH dan pertandingan NH3 dengan HOCl.

b. Organik Chloramine

Pada natural chloramines reaksi yang terbentuk agak lambat tetapi hasilnya stabil, sehingga residualnya tetap ada setelah beberapa jam. Kemampuan desinfektan lebih rendah bila dibandingkan dengan anorganik chloramine.

c. Natrium dan Calsium Hphochlorit

Natrium dan Calsium hypochlorite banyak digunakan sebagai desinfektan di dalam kolam renang. Keduanya menjadi efektivitas yang sama dengan chlorine. Bentuk desinfektan yang ditambahkan akan memengaruhi kualitas air yang didesinfeksi. Penambahan chlorin dalam bentuk gas akan menyebabkan turunya pH air, karena terjadi pembentukan asam kuat. Akan tetapi penambahan chlorine dalam bentuk natrium hypochlorite akan menaikkan alkalinityair tersebut, sehingga pH akan lebih besar pula. Sedangkan Calsium hypochlorite akan menaikkan pH kesadahan absolute air ang didesinfeksi.

d. Chorine dioksida

Sejak tahun 1944 chlorine dioksida (ClO2) sudah digunakan dalam compositions pengolahan air bersih, untuk menghilangkan rasa dan bau akibat adanya phenol. Selain menghilangkan rasa dan bau ClO2 digunakan pula untuk menghilangkan zat besi (Fe) dan mangan (Mn), serta sebagai desinfektan dan pencegah adanya green growth.

2. Ozone (O3)

Ozone atau O3 bersifat mudah larut di dalam air dan mudah terdekomposisi pada temperature dan pH tinggi. Karena sifat terakhir ini, maka ozone harus disiapkan/dibuat sesaat sebelum digunakan. Ozone merupakan oksidator kuat yang bereaksi cepat dengan hampir semua zat organik dan anorganik. Meskipun demikian, peekecualian terjadi bagi particle chlorida karena tidak bereaksi dengan ozone dan amonia yang hanya sedikit bereaksi dengan ozone.

Sifat ozone yang bereaksi dengan cepat menyebabkan persistensinya di dalam air hanya sebentar saja. Dengan demikian desinfektan ini kurang efektif bila dimasudkan untuk “menjaga” kualitas air yang terkontaminasi di jaringan distribusi. Ozone tidak stabil di dalam air serta mempunyai waktu paruh sebesar 40 menit pada pH 7,6 dan suhu 14,6oC. Pada suhu udara bebas diperkirakan waktu paruhnya hanya sekitar 10-20 menit.

3. Iodine dan Bromine

Sudah sejak lama iodine digunakan sebagai hostile to septik pada luka yang kita derita, meskipun demikian penggunaannya sebagai desinfektan kurang famous sampai saat ini. Dibandingkan dengan chlorine, penggunaan iodine memerlukan biaya besar. Seperti halnya chlorine dan bromine, efektivitas iodine dalam membinasakan bakteri dan cyste, masih sangat tergantung pada pH. Akan tetapi dalam membinasakan infection, iodine lebih efektif daripada chlorine dan bromine. Bromine merupakan bakterisida dan virusida yang efektif. Pada kehadiran amonia di dalam air, bromine lebih efektif bila dibandingkan dengan chlorine. Sebagai cystisida, asam hypobromus masih tetap aktif pada pH > 9.

4. Desinfektan Lain

Beberapa desinfektan yang belum banyak digunakan karena kurang efektif atau karena penggunaannya masih merupakan hal baru, itu sebagai berikut :

a. Ferrate

Ferrate merupakan garam dari asam ferric (H2FeO4) dimana Fe bervalensi 6. Sebagai bakterisida atau virusida, ferrate lebih baik dari pada chloramine.

b. Hydrogen Peroksida

Hydrogen peroksida (H2O2) adalah oksidator yang digunakan pula sebagai desinfektan. Penggunaannya tidak famous, karena harganya mahal dan konsentrasi yng diperlukan sebagai desinfektan cukup tinggi.

c. Kalium Permanganat

Kalium permanganate (KMnO4) merupakan oksidator kuat yang sudah sejak lama digunakan. Dalam compositions pengolahan air bersih, penggunaan KMnO4 adalah sebagai oksidator untuk mengurangi kadar Fe dan Mn di dalam air, serta untuk menghilangkan rasa dan bau dari air yang diolah. Selain itu KMnO4 digunakan pula sebagai algisida. Penggunaan KMnO4 sangat terbatas karena harganya mahal, dayanya sebagi bakterisida rendah, serta warnanya mengganggu bila digunakan pada konsentrasi tertentu.

English EN Indonesian ID