031-3977660 info@waterpedia.co.id

Analisis Limbah Roti

Bakery waste (limbah industri roti) merupakan limbah proses pembuatan roti termasuk roti yang tidak terjual. Limbah ini adalah sumber energi terbaik bagi ruminansia dan efektif sebagai pengganti jagung bagi ternak unggas, namun karena kadar garam yang relatif tinggi maka penggunaanya dalam ransum dibatasi hingga 20%. Komposisi nutrient tergantung pada bahan pembuatan roti. Bakery waste mengandung bahan kering 89,8%, protein kasar 10,7%, abu 3,8%, dan lemak kasar 12,7% (Gohl, 1981 dalam E-book).

Limbah ini dihasilkan dari tahap pengolahan dan adanya produk cacat atau tidak sesuai dengan standar. Limbah ini harus dikelola dengan baik supaya tidak menimbulkan kerugian terhadap lingkungan sekitar. Jika tidak adanya pengelolaan limbah, maka dapat menimbulkan dampak yaitu :

1. Pencemaran saluran air oleh limbah cair

2. Penyumbatan drainase jalan

3. Menimbulkan bau busuk

4. Dapat tergenang jika terjadi banjir

Proses pengelolaan limbah cair dan padat pada industri roti yaitu :

1. Limbah cair

Pengelolaan limbah ini bertujuan agar menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi, bahan terlarut, dan juga penyisihan unsur hara berupa nitrogen dan fosfor.

Pengolahan ini dibedakan menjadi 3 yaitu :

a. Pengolahan primer

Adalah pengolahan secara fisik untuk menyisihkan benda-benda terapung atau padatan tersuspensi terendapkan

b. Pengolahan sekunder

Adalah proses biologis, yang pada prinsipnya memanfaatkan aktivitas mikroorganisme (bakteri dan protozoa)

c. Pengolahan tersier

Sistem yang dapat digunakan yaitu filtrasi pasir, eliminasi nitrogen (nitrifkasi dan denitrifikasi), dan eliminasi fosfor.

2. Limbah padat

Pada umumnya, limbah ini digunakan sebagai pakan ternak. Pembuatan pakan ternak tidak hanya berasal dari limbah roti, namun juga diperlukan bahan-bahan lain dalam bentuk formulasi.

Aerasi adalah menambahkan kadar oksigen di dalam air untuk menjadikan proses perkembangbiakan mikroba agar proses oksidasi biologi berlangsung dengan lancar dan efesien.

Fungsi sistem aerasi dalam pengolahan air limbah yaitu :

1. Mengurangi adanya zat pencemar yang terkandung di dalam air

2. Terjadinya proses sirkulasi oksigen pada bagian atas dengan bawah air

3. Memindahkan air lebih cepat menuju bagian yang belum terjadi aerasi

4. Melarutkan kadar oksigen langsung di dalam air

Faktor yang memengaruhi baik buruknya perpindahan oksigen yaitu :

1. Kejenuhan kadar oksigen

2. Suhu atau temperatur air

3. Derajat turbulensi air

4. Karakteristik dari air yang diproses

Tujuan pengolahan air limbah dengan sistem aerasi yaitu :

1. Menurunkan kadar karbondioksida yang terkandung dalam air limbah

2. Menambah jumlah oksigen agar proses oksidasi dan penguraian bakteri lebih maksimal

3. Menghilangkan senyawa kimia yang dapat memengaruhi bau dan rasa pada air (metana, hidrogen sulfida, atau senyawa yang bersifat volatile atau menguap di air).

Alat yang dibutuhkan untuk melakukan proses aerasi adalah aerator. Prinsip kerja aerator yaitu memperbesar permukaan kontak antara air dan udara dengan cara menambahkan oksigen terlarut ke dalam air tersebut.

Pada saat berlangsungnya proses aerasi, oksigen akan disuplai oleh aerator dalam jumlah tertentu untuk memenuhi kebutuhan agar bakteri aerob yang berfungsi untuk mengurai air limbah agar lebih aman untuk lingkungan.

Cara pengolahan air limbah dengan sistem aerasi ada 2, yaitu :

1. Memaksa air menuju ke atas agar melakukan kontak langsung dengan oksigen, biasanya dibantu dengan blower atau pemutaran baling-baling yang kemudian diletakkan pada permukaan air limbah.

2. Memasukkan udara ke dalam limbah cair menggunakan alat bernama nozzle atau porous yang berfungsi untuk memasukkan oksigen murni ke dalam air limbah secara langsung.